31 Agustus 2009

teman vs sahabat

setelah beberapa kali melihat FB, aku lalu berpikir ternyata jumlah teman yang masuk dalam friendlistku ternyata cukup banyak... lebih dari 200an...ak baru sadar kalo ternyata banyak orang yang mau berteman denganku.

tetapi apakah aku tahu secara personal dengan mereka??? apakah mereka juga tahu secara personal tentang aku...??? kalau boleh berhitung... berapa yang menjadi teman karena tahu secara personal tentang aku??? bukan karena sering melihat waktu di kampus, SMA, SMP atau SD..??? atau sering bertegur sapa dalam kegiatan gereja, les2an, dll...

Ya... dengan sangat menyesal ak akan mengatakan bahwa yang tahu secara personal tentang diriku mungkin tidak sampai seperlima dari jumlah yang ada dalam friendlistku...

sekarang mari kita berrefleksi....
kata "teman" seringkali mudah kita ucapkan ketika kita membutuhkan atau ingin mengadakan simbiosis mutualisme... "nek ak butuh yo ak bakal ngsms kw..." nek ak butuh ak bakal nelpon kw... " "nek ak butuh yo ak bakalan nang omahmu..." begitu pula ketika ada orang lain yang kita sering sebut dengan kata "teman" itu membutuhkan suatu hal pada kita...

lalu... "nek aku ra butuh bantuanmu piye..??" "Yo ak ga bakal sms, nelpon, ngabari, mampir omah, dll...." "nek km kaya... punya rumah, kerja, mobil, dlllllllll, ak bakal menjadi temanmu NEK ORA YO MINGGATO...!!!" atau kalo pernah mendengar kata2 ini "KITA TEMENAN AJA YA....." TEMENAN DARI HONGKONG........!!!!

dengan kata lain... kata "teman" ini sudah menjadi lekat dengan segala bentuk kepentingan dan simbiosis mutualisme...hubungan relasi yang pertama kali didasarkan pada kepentingan. atau mungkin relasional yang terbiaskan oleh berbagai kepentingan personal...

ini kalo teman....

lha kalo sahabat...???
menurut refleksi pengalaman hidupku hari ini... sahabat ini lebih tinggi kualitasnya dari teman, mungkin dalam segi kuantitas, jumlah sahabat setiap orang tidak lebih dari jumlah teman yang dimiliki dalam friendlistnya.

Yang namanya sahabat...

ga urusan kalo ak butuh atau kamu butuh.... pasti kita tetap berrelasi...
kata "sahabat" lepas dari kepentingan-kepentingan mutualisme yang membiaskan sebuah relasi antarsesama.

sahabat tidak memandang siapa kamu... latar belakangmu apa... lifestyle mu bagaimana... tetapi lebih memandang bagaimana memberikan cinta untuk orang lain....
bagaimana berkorban untuk kebahagiaan sahabatnya walau mungkin itu dianggap orang lain yang tidak tahu sebagai tindakan bodoh.....

so....

hari ini tadi ak mendapat sms dari seseorang. Dia menanyakan suatu hal yang mungkin menjadi suatu kebutuhannya karena sudah lebih dari dua minggu dia tidak mengsms aku lagi... dan setelah kujawab ternyata mungkin jawabanku sudah menjawab pertanyaannya dan dia tidak mengsms ak lagi untuk sekedar mengucapkan terima kasih atau apapun.....

dan dari situ ak disadarkan bahwa mungkin memang sulit bertemu ketika dua pihak yang berhubungan melihat hubungan itu sebagai pertemanan atau persahabatan....
dan dari situ ak tahu bahwa dia memang menganggapku sebagai teman.. (atau mungkin teman yang menyebalkan sehingga berkali2 kujawab semua keingintahuannya tetapi tidak ada 1 kali pun terimakasih yang terlontar dari bibirnya).

tetapi ya sudahlah... itu menjadi pelajaran yang berharga untukku....

so lagi.... daripada memikirkan cara berteman, atau yang berhubungan dengan teman lebih baik mulai detik ini... mari kita memandang orang lain sebagai sahabat kita tidak lagi sekedar teman. sehingga kita akan lebih terbuka dan mampu memberikan cinta untuk orang lain tanpa terbiaskan oleh kepentingan-kepentingan personal.



-belajar menjadi sahabat-

17 Agustus 2009

what the fuckin shit with the lifestyle......

pernahkah merasa tertekan dengan gaya hidup????

mengapa banyak orang memilih untuk hanya sekedar ikut-ikut dan masuk ke dalam arus gaya hidup....?? bukan lalu menjadi pelopor gayahidup???

mengapa gaya hidup malah lalu menjadi yang utama, hendak diseragamkan, dan menjadi prioritas??? mengapa kita tidak melihat bahwa sebenarnya kita tidak perlu menyeragamkan gaya hidup karena sebagai manusia kita mempunyai individual diferences..???atau mengapa kita juga tidak melihat bahwa gaya hidup sebenarnya merupakan kebutuhan sekunder bahkan kebutuhan tersier...???

ya akhirnya ak lalu menyanyikan lirik dream theater
"I'm tired of this fight...."
bukan untuk menyerah..... tetapi untuk mencari jalan terbaik.......
bukan untuk menjadi kalah.... tetapi untuk mencari kemenangan nyata untukku....

selamat tinggal my luvly gupy....


"I'm learning to survive...
without you in my life..
till you come knocking at my door...."