09 Oktober 2026
Tiba tiba disapa Tuhan lewat tangisan temen
Minggu lalu, saat kerja, aku dikejutkan seorang temen bahwa dia mau berpisah dengan suaminya. Perkawinan yang baru berapa tahun ini terancam bubar karena sudah tidak ada komunikasi selama beberapa bulan. Rumah tangga yang tadinya harmonis tiba tiba menjadi penuh kebencian. Sapaan yang biasanya ada menjadi penuh kemarahan dan bentakan
Dengan penuh tangisan, dia bercerita semua hal yang selama ini dipendamnya. Dua jam dia menangis dan menyesali mengapa keluarga kecilnya hancur. Aku anya diam.. aku enyaksikan dia ang selalu ceria, selalu cerewet tiba-tiba terpuruk selama beberapa bulan tanpa kutahu.
Tiba-tiba aku teringat, bahwa in reality cinta yang dibangun memang tidak selalu mulus seperti pipi uy Tetapi yang membuat bertahan adalah komitmen. Komitmen mau berubah lebih baik, komitmen untuk tetap saling menyayangi, komitmen untuk tidak berkata pisah, komitmen untuk tetap setia dan memaafkan.
Lalu kalau tidak bisa komit bagaimana? atau kalau yang komitmen cuman 1 pihak bagaimana? apa tetap bareng atau pisah? Berhubung ak bukan konselor perkawinan, hanya kujawab yang paling tahu yang terbaik adalah yang menjalani kehidupan. Semua tindakan adalah hasil dan konsekuensi dari pilihan yang sudah dianalisis sebelumnya. jadi mana yang terbaik silakan dipikir dengan tenang.
Minggu ini Tuhan menyapa dan mengingatkan dengan agak bercanda. Dia mengingatkan untuk ku lebih menyayangi keluarga dengan contoh kdeeasus temenku.Semoga dia juga mendapat jalan terbaik. Kangen rasanya melihat dia ceria kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)
